KOMITMEN PEGAWAI
Dosen Pengampu: Syamsuddin, MPd
Makalah ini disusun untuk menyelesaikan salah satu tugas mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia
PRODI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
Semester Dua (III)
Oleh:
Rizmi Rahmawati: 17010103018
Imtihana Dewi: 17010103015
Gunawan Hadia: 1701010319
Ika Sastika Sari: 17010103017
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
KENDARI
2018
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah SWT atas rahmat dan karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Baginda Rasulullah SAW atas bimbingannya kepada kita semua untuk senantiasa berada di jalan kebajikan jalan islam yang mulia.
Adapun objek pembahasan yang akan coba kami uraikan pada makalah ini yaitu terkait dengan “Komitmen Pegawai”. Kami sangat menyadari atas keterbatasan dan kekurangan wawasan dan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Oleh karenanya kami sangat mengharapkan kontribusi kritik ataupun saran yang tentunya dapat membantu kami dalam penyempurnaan makalah ini kedepannya.
Akhir kata dengan mengharap ridho Allah semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Kendari, 30 Oktober 2018
Kelompok VI
Penulis
DAFTAR ISI
COVER i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 1
Tujuan 1
BAB II PEMBAHASAN 2
Pengertian komitmen organisasi 2
Dimensi komitmen pegawai 3
Proses pembentukan komitmen dalam organisasi atau
lembaga 5
Faktor-faktor yang memepengaruhi komitmen 7
BAB III PENUTUP 9
Kesimpulan 9
Saran 9
DAFTAR PUSTAKA 11
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang membulatkan hati, bertekad, berjeri payah, berkorban dan bertanggung jawab demi mencapai tujuan dirinya dan tujuan organisasi atau perusahaan yang telah disepakati atau ditentukan sebelumnya. Komitmen memiliki peranan penting terutama pada kinerja seseorang ketika bekerja, hal ini disebabkan oleh adanya komitmen yang menjadi acuan serta dorongan yang membuat mereka lebih bertanggung jawab terhadap kewajibannya.
Namun, kenyataannya banyak organisasi atau perusahaan yang kurang memperhatikan mengenai komitmen karyawannya sehingga kinerja mereka kurang maksimal. Seharusnya, organisasi atau perusahaan ketika melakukan perekrutan hendaknya mereka memilih calon-calon yang komitmennya tinggi pada perusahaan, ini dimaksudkan untuk mendeteksi sejak dini pekerja yang kurang maksimal sehingga tidak terjadi hal yang dapat merugikan organisasi atau perusahaan.
Melihat begitu pentinggnya komitmen, maka kami akan membahas mengenai komitmen pegawai dalam makalh ini.
Rumusan Masalah
Bagaimana pengertian komitmen organisasi?
Bagaimana dimensi komitmen pegawai?
Bagaimana proses pembentukan komitmen dalam organisasi atau lembaga?
Bagaimana faktor-faktor yang memepengaruhi komitmen?
Tujuan
Untuk mengetahui pengertian komitmen.
Untuk mengetahuidimensi komitmen pegawai.
Untuk mengetahui proses pembentukan komitmen dalam organisasi atau lembaga.
Untuk mengetahui faktor-faktor yang memepengaruhi komitmen.
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Komitmen Organisasi
Komitmen oranisasi memiliki arti penerimaan yang kuat dalam diri individu terhadap tujuan dan nilai-nilai perusahaan, sehingga individu tersebut akan berkarya serta memiliki hasrat yang kuat untuk tetap bertahan di perusahaan. Komitmen sesorang terhadap organisasi merupakan faktor yang sangat dibutuhkan dan penting, karena komitmen organisasi mengacu kepada ikatan psikologis karyawan terhadap organisasi, nilai yang ditempatkan sebagai afiliasi organisasi, dan derajat dimana karyawan mau untuk meningkatkan diri atas nama organisasi. Komitmen dapat diartikan sebagai suatu hasil dari investasi atau kontribusi terhadap organisasi atau suatu pendekatan psikologis dimana komitmen diggambarkan sebagai suatu hal yang positif, keterlibatan yang tinggi, orientasi intensitas tinggi terhadap organisasi.
Komitmen organisasi dapat didefinisikan dengan dua cara yang amat berbeda. Cara pertama diajukan oleh Porter, Steers, Mowday dan Boulian (1974); Mouday, Porter dan Steers (1982), menurutnya komitmen adalah kuatnya mengenal dan keterlibatan seseorang dalam suatu organisasi tertentu. Atau komitmen organisasional sebagai derajat seberapa jauh karyawan mengidentifikasikan dirirnya dan organisasi dan keterlibatanya dalam organisasi tertentu Moday, dkk (1982). Dan cara yang kedua dilanjutkan oleh Backer (1960) menggambarkan komitmen sebagai kecendruangan untuk keterkaitan dalam garis kegiatan yang konsisten karna enganggap adanya biaya pelaksanaan kegiata yang lain (berhenti bekerja).
Beberapa ahli lain menyatakan pendapatnya tentang komitmen organisasi antara lain sebagai berikut:
Bishop et.al, mendefinisikan komitmen organisasi sebagai kekuatan relatif dari identifikasi individu bersama dan keterlibatannya dengan organisasi. Komitmen organisasi juga berarti dukungan (support) pegawai dan keinginannya untuk mengimplementasikan tujuan dan rencana serta keputusan organisasi.
Sudarmanto, mendefinisikan komitmen organisasi adalah kemampuan individu dan kemauan menyelaraskan prilakunya dengan kebutuhan, prioritas, dan tujuan organisasi dan bertindak untuk tujuan atau kebutuhan organisasi.
Mathis dan Jackson, mendefinisikan ”Organizational Comitment is the degree to which employees believe in and accept organizational hoals and desire to remain with the organization” (komitmen organisasi adalah derajat yang mana karyawan percaya dan menerima tujuan-tujuan organisasi dan akn tetap tinggal atau tidak akan meninggalkan organisasi).
Mowday, menyebut bahwa komitmen kerja sebagai istilah lain dari komitmen organisasional, menurut dia komitmen organisasional merupakan dimensi perilaku penting yang dapat digunakan untuk menilai kecenderungan karyawan untuk bertahan sebagai anggota organisasi.
Dari beberapa pengertian komitmen organisasi di atas dapat disimpulkan bahwa komitmen organisasi adalah sikap loyalitas karyawan terhadap organisasi, dengan cara tetap bertahan dalam organisasi, membantu mencapai tujuan organisasi dan dan tidak memiliki keinginan untuk meninggalkan organisasi dengan alasan apapun.
Dimensi Komitmen Pegawai
Dimensi komitmen organisasi berkembang selama kepegawaian berlangsung dalam suatu organisasi. Secara umum, komitmen menjadi target dalam suatu kesatuan (perkumpulan, organisasi, karier atau pekerjaan) atau mengikuti perilaku misalnya kesesuaian dengan tujuan organisasi. Perilaku dengan pendekatan kesatuan pada komitmen organisasi mempunyai dampak pada fokus komitmen.
Perilaku individu dan sikap dipengaruhi oleh faktor-faktor dalam organisasi dalam batas kontas kontrak psikologis. Kontrak psikologis adalah presepsi kepercayaan tentang penerimaan terhadap keberhasilan dan kegagalan ketika pegawai merasa terjadinya penurunan kesepakatan yang ditunjukkan dengan terjadinya penurunan tingkat komitmen dan keluar masuknya pegawai.
Mayer dan Herscofitch menjelaskan bahwa ada penjelasan fokus secara luas pada fungsi komitmen. Ketika komitmen dipertimbangkan sebagai fokus pada suatu kesatuan konsekuensi perilaku jarang diperhatikan, jika tidak diungkapkan secara eksplisit.
Para peneliti komitmen organisasi membagi komitmen organisasi menjadi dua kelompok yaitu yang memandang komitmen organisasi sebagai sikap dan yang memandang komitmen organisasi sebagai pelaku (Mayer dan Allen) menyatakan komitmen sikap sebagai suatu cara orang merasakan dan berfikir tentang organisasi mereka, sedangkan komitmen perilaku menggambarkan secara individu memasuki organisasi. Pendekatan sikap menghasilkan komitmen sebagai suatu sikap pegawai yang mereflesikan sikap dan kualitas dari hubungan antar pegawai dan organisasi.
Diantara pendekatan sikap, para peneliti telah memulai memandang komitmen organisasi sebagai konsep multi mensional yang memiliki perbedaan faktor yang berhubungan dengan hasil serta implikasinya untuk MSDM.
Pendapat Mayer dan Allen ini sering digunakan oleh para peneliti dibidang ilmu perilaku organisasi dan ilmu psikologi. Bahwa komitmen atau implikasinya yang mempengaruhi apakah karyawan akan tetap bertahan dalam organisasi atau tidak, yang teridentifikasi dalam tiga komponen yaitu:
Komponen afektif, berkaitan dengan keterkaitan emosional karyawan, identifikasi karyawan dan keterlibatan karyawan pada organisasi.
Komitmen kontinyu berkaitan dengan persepsi seseorang atas biaya dan resiko dengan meninggalkan organisasi saat ini.
Komitmen normatif merupakan sebuah dimensi moral yang didasarkan pada perasaan pada perasaan dan tanggung jawab pada organisasi yang mempekerjakanya. Dengan kata lain, komitmen normatif berkaitan dengan perasaan wajib untuk tetap bekerja dalam organisasi.
Secara umum, riset yang berkaitan dengan para karyawan yang memiliki skomitmen afektif yang kuat akan tetap tinggal bersama orgabisasi dikarnakan mereka ingin tinggal. Para karyawan yang memiliki komitmen kontinyu yang kuat dikarnakan mereka harus tinggal bersama organisasi. Dan para karyawan yang memiliki komitmen normatif yang kuat dikarnakan mereka merasa bahwa mereka harus tinggal bersama.
Proses Pembentukan Komitmen Dalam Organisasi Atau Lembaga
Bashaw dan Grant menjelaskan bahwa komitmen karyawan atau pimpinan terhadap organisasi merupakan sebuah proses berkesinambungan dan merupakan sebuah proses sebuah pengalaman individu ketika bergabung dalam sebuah organisasi. Desseler mengemukakan, ada sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk membangun komitmen karyawan pada organisasi, yaitu:
Make it charismatic. Maksudnya, jadikan visi, misi organisasi sebagai sesuatu yang charismatic-sesuatu yang dijadikan pijakan, dasar bagi setiap karyawan dalam berperilaku,bersikap dan bertindak.
Build the tradition. Maksudnya, segala sesuatu yang baik dalam organisasi, jadikanlah hal tersebut sebagai suatu tradisi organisasi yang secara terus menerus dipelihara, dijaga oleh generasi berikutnya.
Have comprehensive grievance procedures. Maksudnya, bila ada keluhan atau komplain dari pihak luar atau pun dari internal organisasi, maka organisasi harus memiliki prosedur untuk mengatasi keluhan tersebut secara menyeluruh.
Provide extensive two-way communication. Maksudnya, jalinlah komunikasi dua arah diorganisasi tanpa memandang rendah bawahan.
Create a sense of community. Maksudnya, jadikan semua urusan dalam organisasi sebagai suatu community dimana di dalamnya ada nilai-nilai kebersamaan, rasa memiliki, berbagai, dan lain-lain.
Buildvalue-based homogeneity. Maknanya adalah membangun kesamaan yang didasarkan pada nilai. Setiap anggota organisasi memiliki kesempatan yang sama, misalnya untuk promosi, dasar yang digunakan untuk promosi adalah nilai, skil, minat, motivasi, tanpa adanya diskriminasi.
Share and share alike. Maksudnya, sebaiknya organisasi membuat kebijakan dimana antara karyawan level bawahan sampai yang paling atas tidak perlu berbeda atau mencolok (pendapatnya, gaya hidup, dan lain-lain).
Emphasize barnraising. Maksudnya, organisasi sebagai suatu komuniti harus memberikan kesempatan yang sama pada anggota organisasi. Misalnya perlu adanya rotasi sehingga orang yang bekerja di “tempat basah” perlu ditempatkan juga di “tempat yang kering”. Semua anggota organisasi adalah tim kerja, semua harus memberikan kontribusi yang maksimal demi keberhasilan organisasi tersebut (tim).
Get together. Maksudnya adalah adakan acara-acara yang melibatkan semua anggota organisasi sehingga kebersamaan bisa terjalin. Misalnya sekali-sekali produksi digantikan dan semua karyawan terlibat dalam even rekreasi bersama keluarga, pertandingan olahraga, atau seni.
Support employee development. Hasil studi menunjukan bahwa karyawan akan lebih memiliki komitmen terhadap organisasi bila organisasi memperhatikan perkembangan karir karyawan jangka panjang.
Commit to Actualizing. Setiap karyawan diberikan kesempatan yang sama untuk memengaktualisasikan dirinya secara maksimal diorganisasi sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya masing-masing.
Provide frist-year job challenge. Karyawan yang masuk ke organisasi dengan membawa mimpi-mimpinya, harapannya, kebutuhan-kebutuhannya.berikan bantuan yang konkrit bagi dia untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Enrich and empower. Ciptakan kondisi agar karyawan pekerja tidak monoton, karena rutinitas akan menimbulkan perasaan bosan bagi karyawan. Hal ini tidak baik karena akan menurunkan kinerja karyawan tersebut.
Promote from within. Bila ada lowongan jabatan, sebaiknya kesempatan pertama diberikan kepada pihak interen perusahaan sebelum merekrut karyawan dari luar perusahaan.
15. Provide development activities.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Komitmen
Komitmen pegawai pada organisasi tidak begitu saja tetapi melalui proses yang cukup panjang dan bertahap. Komitmen pegawai, termasuk komitmen kepala sekolah juga ditentukan oleh sejumlah faktor.
Ciri pribadi pegawai, termasuk masa jabatannya dalam organisasi, dan fariasi kebutukan dan keinginan yang berbeda dari tiap pegawai.
Ciri pekerjaan, seperti identitas tugas dan kesempatan berinteraksi dengan rekan sekerjanya.
Pengalaman kerja, seperti keterandalan organisasi dimasa lampau dan cara pegawai-pegawai lain mengutarakan dan membicarakan perasaanya mengenai organisasi.
David mengemukakan ada empat faktor yang mempengaruhi komitmen karyawan pada organisasi yaitu:
Faktor person, misalnya usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengalaman kerja, dan kepribadian.
Karasteristik pekerjaan, misalnya lingkup jabatan, tantangan pekerjaan,konflik pekerjaan dalam pekerjaan.
Karakteristik struktur, misalnya besarkecilnya organisasi, bentuk sentralisasi atau desentralisasi, kehadiran serikat pekerja, dan tingkat pengendalian yang dilakukan organisasi terhadap karyawan.
Pengalaman kerja, pengalaman kerja karyawan saat berpengaruh terhadap tingkat komitmen karyawan pada organisasi. Karyawan yang baru beberapa tahun bekerja dan yang sudah puluhan tahun bekerja dalam organisasi tertentu memiliki tingkat komitmen yang berfariasi.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Komitmen organisasi adalah sikap loyalitas karyawan terhadap organisasi, dengan cara tetap bertahan dalam organisasi, membantu mencapai tujuan organisasi dan dan tidak memiliki keinginan untuk meninggalkan organisasi dengan alasan apapun.
Dimensi komitmen organisasi berkembang selama kepegawaian berlangsung dalam suatu organisasi. Secara umum, komitmen menjadi target dalam suatu kesatuan (perkumpulan, organisasi, karier atau pekerjaan) atau mengikuti perilaku misalnya kesesuaian dengan tujuan organisasi.
Bashaw dan Grant menjelaskan bahwa komitmen karyawan atau pimpinan terhadap organisasi merupakan sebuah proses berkesinambungan dan merupakan sebuah proses sebuah pengalaman individu ketika bergabung dalam sebuah organisasi.
Komitmen pegawai pada organisasi tidak begitu saja tetapi melalui proses yang cukup panjang dan bertahap. Komitmen pegawai, termasuk komitmen kepala sekolah juga ditentukan oleh sejumlah faktor.
Ciri pribadi pegawai, termasuk masa jabatannya dalam organisasi, dan fariasi kebutukan dan keinginan yang berbeda dari tiap pegawai.
Ciri pekerjaan, seperti identitas tugas dan kesempatan berinteraksi dengan rekan sekerjanya.
Pengalaman kerja, seperti keterandalan organisasi dimasa lampau dan cara pegawai-pegawai lain mengutarakan dan membicarakan perasaanya mengenai organisasi.
Saran
Permasalahan komitmen pegawai menjadi isu kritis bersamaan dengan mulai derasnya informasi global, sebagai bagian dan konsekuensi logis globalisasi itu sendiri, bisnis dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan bisnis eksternal dan internal yang selalu berubah. Manajemen baru yang dapat saja terbentuk setiap saat. Pegawai-pegawai baru, pekerjaan-pekerjaan baru, peluang-peluang baru serta ancaman-ancaman baru, yang kesemuanya terus bermunculan di depan mata. Oleh karena itu kami menyarankan agar seluruh sumber daya manusia di dalam perusahaan memiliki komitmen yang tinggi pada pekerjaannya, maka seluruh pihak di dalam organisasi harus selalu termotivasi dan untuk mampu memotivasi ini, diperlukan komitmen dari pimpinan puncak perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA
Widi Purnama Sari, Pengaruh Disiplin Kerja, Komitmen Organisasi, Dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Negeri Sipil Balai Besar Wilayah Sungai Pemali-Juana. Semarang.
Ria Mardiana Yusuf dan Drman Syarif, Komitmen Organisasi. Makassar. Darmadi, Manajemen Sumber Daya Manusia Kepalasekolahan. Yogyakarta: CV Budi utama.
Aliflulahtin Utaminingsih, Perilaku Organisasi Malang: UB Press.