Sabtu, 10 November 2018

Proses Kerja Public Relations

MANAJEMEN HUMAS DAN LAYANAN PUBLIC

Dosen Pengampu: Sri Hadija Arnus M.Sos



Tugas  ini disusun untuk menyelesaikan salah satu tugas mata kuliah Manajemen Humas dan Layanan Publik
Oleh:
Rizmi Rahmawati: 17010103018
Aprilia Enggi Sulistia: 17010103040
Ma’rifatul Khalifah: 17010103001
Marlin: 17010103023
Muhammad Try Suryadi: 17010103009
Faisal: 17010103027

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
KENDARI
2018



PROSES KERJA PUBLIC RELATIONS
PT. PARAGON
Ilustrasi:
Tahun 2000an Perusahaan bedak PT. Paragon memproduksi bedak padat untuk wantia remaja, namun bedak padat tersebut di isukan mengandung pewarna pakaian yang berbahaya bagi kulit. Oleh karena itu, sebagai public relations perusahaan tersebut berkewajiban untuk mengatasi masalah tersebut, karena hal ini dapat merusak citra dan dampaknya akan terjadi kerugian pada perusahaan apabila tidak segera ditangani.
Berikut langkah-langkah yang ditempuh oleh public relation PT.Paragon Dalam mengatasi permasalahan tersebut.
Fact Finding
Mencari data-data yang akurat mengenai produk kami  dengan bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan bedak padat tersebut.
 Melihat kelapangan atau masyarakat yang menggunakan produk tersebut apabila keadaannya mengacu pada hal yang menggawatkan perusahaan misalnya masyarakat banyak yang menganggap bedak padat  tersebut berbahaya sehingga di demo keberadaannya.
Planning
Menyusun rancangan hal-hal apa saja yang harus dilakukan oleh seorang PR, setelah PR mendapatkan bukti dan fakta bahwa produk perusahaan tidak mengandung bahan pewarna pakaian yang berbahaya untuk kulit, rencana  pertama akan dialakukan adalah:
Conferensi pers yaitu dengan mengundang para wartawan di lobby perusahaan paragon  kemudian membawa ahli lab dan dokter kulit yang telah menyelidiki composisi dari bahan pembuatan bedak tersebut dan PR sebagai perwakilan atau juru bicara dari perusahaan
Mengadakan acara bazzar di mall dan didalamnya ada uji coba pembuktian bedak yang berbahaya dengan yang aman dan juga memberikan hadiah bagi pembeli bedak tersebut.
Dan  dengan tempat yang sama yaitu di mall perusahaan paragon akan  mengadakan talk show dengan mengundang artis “icon”  dan mengundang badan pom, dokter kulit. membuat berita melalui media cetak, majalah  mengenai perbaikan citra dari produk kami.
Membuat iklan yang mengandung unsur pembuktian bahwa bahan-bahan pembuatan bedak ini adalah alami semuanya dan tentunya juga harus menarik dengan memperhatikan komposisi warna dan icon atau artis yang menjadi talent dalam iklan tersebut.
Comunicating
Membuat jumpa pers yang menghadirkan warga dan pemerintah yang menjelaskan mengenai permasalahan yang terjadi.
Mengadakan acara bazzar di mall dan didalamnya ada uji coba pembuktian bedak yang berbahaya dengan yang aman dan juga memberikan hadiah bagi pembeli bedak tersebut.
Mengundang badan pom, dokter kulit serta membuat berita melalui media cetak dan  majalah  mengenai perbaikan citra dari produk kami.
Evaluating
Memantau segala pemberitaan yang berkembang di publik melalui media massa maupun media elektronik.

KOMITMEN PEGAWAI
Dosen Pengampu: Syamsuddin, MPd



Makalah ini disusun untuk menyelesaikan salah satu tugas mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia
PRODI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
Semester Dua (III)
Oleh:

Rizmi Rahmawati: 17010103018
Imtihana Dewi: 17010103015
Gunawan Hadia: 1701010319
Ika Sastika Sari: 17010103017

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
KENDARI
2018



KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah SWT atas rahmat dan karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Baginda Rasulullah SAW atas bimbingannya kepada kita semua untuk senantiasa berada di jalan kebajikan jalan islam yang mulia.
Adapun objek pembahasan yang akan coba kami uraikan pada makalah ini yaitu terkait dengan “Komitmen Pegawai”. Kami sangat menyadari atas keterbatasan dan kekurangan wawasan dan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Oleh karenanya kami sangat mengharapkan kontribusi kritik ataupun saran yang tentunya dapat membantu kami dalam penyempurnaan makalah ini kedepannya.
Akhir kata dengan mengharap ridho Allah semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Kendari, 30 Oktober 2018
Kelompok VI
Penulis











DAFTAR ISI
COVER i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 1
Tujuan 1
BAB II PEMBAHASAN 2
Pengertian komitmen organisasi 2
Dimensi komitmen pegawai 3
Proses pembentukan komitmen dalam organisasi atau 
lembaga 5
Faktor-faktor yang memepengaruhi komitmen 7
BAB III PENUTUP 9
Kesimpulan 9
Saran 9
DAFTAR PUSTAKA 11

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang membulatkan hati, bertekad, berjeri payah, berkorban dan bertanggung jawab demi mencapai tujuan dirinya dan tujuan organisasi atau perusahaan yang telah disepakati atau ditentukan sebelumnya. Komitmen memiliki peranan penting terutama pada kinerja seseorang ketika bekerja, hal ini disebabkan oleh adanya komitmen yang menjadi acuan serta dorongan yang membuat mereka lebih bertanggung jawab terhadap kewajibannya.
Namun, kenyataannya banyak organisasi atau perusahaan yang kurang memperhatikan mengenai komitmen karyawannya sehingga kinerja mereka kurang maksimal. Seharusnya, organisasi atau perusahaan ketika melakukan perekrutan hendaknya mereka memilih calon-calon yang komitmennya tinggi pada perusahaan, ini dimaksudkan untuk mendeteksi sejak dini pekerja yang kurang maksimal sehingga tidak terjadi hal yang dapat merugikan organisasi atau perusahaan.
Melihat begitu pentinggnya komitmen, maka kami akan membahas mengenai komitmen pegawai dalam makalh ini.
Rumusan Masalah
Bagaimana pengertian komitmen organisasi?
Bagaimana dimensi komitmen pegawai?
Bagaimana proses pembentukan komitmen dalam organisasi atau lembaga?
Bagaimana faktor-faktor yang memepengaruhi komitmen?
Tujuan
Untuk mengetahui pengertian komitmen.
Untuk mengetahuidimensi komitmen pegawai.
Untuk mengetahui proses pembentukan komitmen dalam organisasi atau lembaga.
Untuk mengetahui faktor-faktor yang memepengaruhi komitmen.
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Komitmen Organisasi 
Komitmen oranisasi memiliki arti penerimaan yang kuat dalam diri individu terhadap tujuan dan nilai-nilai perusahaan, sehingga individu tersebut akan berkarya serta memiliki hasrat yang kuat untuk tetap bertahan di perusahaan. Komitmen sesorang terhadap organisasi merupakan faktor yang sangat dibutuhkan dan penting, karena komitmen organisasi mengacu kepada ikatan psikologis karyawan terhadap organisasi, nilai yang ditempatkan sebagai afiliasi organisasi, dan derajat dimana karyawan mau untuk meningkatkan diri atas nama organisasi. Komitmen dapat diartikan sebagai suatu hasil dari investasi atau kontribusi terhadap organisasi atau suatu pendekatan psikologis dimana komitmen diggambarkan sebagai suatu hal yang positif, keterlibatan yang tinggi, orientasi intensitas tinggi terhadap organisasi.
Komitmen organisasi dapat didefinisikan dengan dua cara yang amat berbeda. Cara pertama diajukan oleh Porter, Steers, Mowday dan Boulian (1974); Mouday, Porter dan Steers (1982), menurutnya komitmen adalah kuatnya mengenal dan keterlibatan seseorang dalam suatu organisasi tertentu. Atau komitmen organisasional sebagai derajat seberapa jauh karyawan mengidentifikasikan dirirnya dan organisasi dan keterlibatanya dalam organisasi tertentu Moday, dkk (1982). Dan cara yang kedua dilanjutkan oleh Backer (1960) menggambarkan komitmen sebagai kecendruangan untuk keterkaitan dalam garis kegiatan yang konsisten karna enganggap adanya biaya pelaksanaan kegiata yang lain (berhenti bekerja).


 Beberapa ahli lain menyatakan pendapatnya tentang komitmen organisasi antara lain sebagai berikut:
Bishop et.al, mendefinisikan komitmen organisasi sebagai kekuatan relatif dari identifikasi individu bersama dan keterlibatannya dengan organisasi. Komitmen organisasi juga berarti dukungan (support) pegawai dan keinginannya untuk mengimplementasikan tujuan dan rencana serta keputusan organisasi. 
Sudarmanto, mendefinisikan komitmen organisasi adalah kemampuan individu dan kemauan menyelaraskan prilakunya dengan kebutuhan, prioritas, dan tujuan organisasi dan bertindak untuk tujuan atau kebutuhan organisasi.
Mathis dan Jackson, mendefinisikan ”Organizational Comitment is the degree to which employees believe in and accept organizational hoals and desire to remain with the organization” (komitmen organisasi adalah derajat yang mana karyawan percaya dan menerima tujuan-tujuan organisasi dan akn tetap tinggal atau tidak akan meninggalkan organisasi).
Mowday, menyebut bahwa komitmen kerja sebagai istilah lain dari komitmen organisasional, menurut dia komitmen organisasional merupakan dimensi perilaku penting yang dapat digunakan untuk menilai kecenderungan karyawan untuk bertahan sebagai anggota organisasi.
Dari beberapa pengertian komitmen organisasi di atas dapat disimpulkan bahwa komitmen organisasi adalah sikap loyalitas karyawan terhadap organisasi, dengan cara tetap bertahan dalam organisasi, membantu mencapai tujuan organisasi dan dan tidak memiliki keinginan untuk meninggalkan organisasi dengan alasan apapun. 

Dimensi Komitmen Pegawai
Dimensi komitmen organisasi berkembang selama kepegawaian berlangsung dalam suatu organisasi. Secara umum, komitmen menjadi target dalam suatu kesatuan (perkumpulan, organisasi, karier atau pekerjaan) atau mengikuti perilaku misalnya kesesuaian dengan tujuan organisasi. Perilaku dengan pendekatan kesatuan pada komitmen organisasi mempunyai dampak pada fokus komitmen.
Perilaku individu dan sikap dipengaruhi oleh faktor-faktor dalam organisasi dalam batas kontas kontrak psikologis. Kontrak psikologis adalah presepsi kepercayaan tentang penerimaan terhadap keberhasilan dan kegagalan ketika pegawai merasa terjadinya penurunan kesepakatan yang ditunjukkan dengan terjadinya penurunan tingkat komitmen dan keluar masuknya pegawai.
Mayer dan Herscofitch menjelaskan bahwa ada penjelasan fokus secara luas pada fungsi komitmen. Ketika komitmen dipertimbangkan sebagai fokus pada suatu kesatuan konsekuensi perilaku jarang diperhatikan, jika tidak diungkapkan secara eksplisit. 
Para peneliti komitmen organisasi membagi komitmen organisasi menjadi dua kelompok yaitu yang memandang komitmen organisasi sebagai sikap dan yang memandang komitmen organisasi sebagai pelaku (Mayer dan Allen) menyatakan komitmen sikap sebagai suatu cara orang merasakan dan berfikir tentang organisasi mereka, sedangkan komitmen perilaku menggambarkan secara individu memasuki organisasi. Pendekatan sikap menghasilkan komitmen sebagai suatu sikap pegawai yang mereflesikan sikap dan kualitas dari hubungan antar pegawai dan organisasi. 
Diantara pendekatan sikap, para peneliti telah memulai memandang komitmen organisasi sebagai konsep multi mensional yang memiliki perbedaan faktor yang berhubungan dengan hasil serta implikasinya untuk MSDM.
Pendapat Mayer dan Allen ini sering digunakan oleh para peneliti dibidang ilmu perilaku organisasi dan ilmu psikologi. Bahwa komitmen atau implikasinya yang mempengaruhi apakah karyawan akan tetap bertahan dalam organisasi atau tidak, yang teridentifikasi dalam tiga komponen yaitu:
Komponen afektif, berkaitan dengan keterkaitan emosional karyawan, identifikasi karyawan dan keterlibatan karyawan pada organisasi. 
Komitmen kontinyu berkaitan dengan persepsi seseorang atas biaya dan resiko dengan meninggalkan organisasi saat ini.
Komitmen normatif merupakan sebuah dimensi moral yang didasarkan pada perasaan pada perasaan dan tanggung jawab pada organisasi yang mempekerjakanya. Dengan kata lain, komitmen normatif berkaitan dengan perasaan wajib untuk tetap bekerja dalam organisasi.
Secara umum, riset yang berkaitan dengan para karyawan yang memiliki skomitmen afektif yang kuat akan tetap tinggal bersama orgabisasi dikarnakan mereka ingin tinggal. Para karyawan yang memiliki komitmen kontinyu yang kuat dikarnakan mereka harus tinggal bersama organisasi. Dan para karyawan yang memiliki komitmen normatif yang kuat dikarnakan mereka merasa bahwa mereka harus tinggal bersama.
Proses Pembentukan Komitmen Dalam Organisasi Atau Lembaga
Bashaw dan Grant menjelaskan bahwa komitmen karyawan atau pimpinan terhadap organisasi merupakan sebuah proses berkesinambungan dan merupakan sebuah proses sebuah pengalaman individu ketika bergabung dalam sebuah organisasi. Desseler mengemukakan, ada sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk membangun komitmen karyawan pada organisasi, yaitu:
Make it charismatic. Maksudnya, jadikan visi, misi organisasi sebagai sesuatu yang charismatic-sesuatu yang dijadikan pijakan, dasar bagi setiap karyawan dalam berperilaku,bersikap dan bertindak. 
Build the tradition. Maksudnya, segala sesuatu yang baik dalam organisasi, jadikanlah hal tersebut sebagai suatu tradisi organisasi yang secara terus menerus dipelihara, dijaga oleh generasi berikutnya.
Have comprehensive grievance procedures. Maksudnya, bila ada keluhan atau komplain dari pihak luar atau pun dari internal organisasi, maka organisasi harus memiliki prosedur untuk mengatasi keluhan tersebut secara menyeluruh.
Provide extensive two-way communication. Maksudnya, jalinlah komunikasi dua arah diorganisasi tanpa memandang rendah bawahan.
Create a sense of community. Maksudnya, jadikan semua urusan dalam organisasi sebagai suatu community dimana di dalamnya ada nilai-nilai kebersamaan, rasa memiliki, berbagai, dan lain-lain.
Buildvalue-based homogeneity. Maknanya adalah membangun kesamaan yang didasarkan pada nilai. Setiap anggota organisasi memiliki kesempatan yang sama, misalnya untuk promosi, dasar yang digunakan untuk promosi adalah nilai, skil, minat, motivasi, tanpa adanya diskriminasi.
Share and share alike. Maksudnya, sebaiknya organisasi membuat kebijakan dimana antara karyawan level bawahan sampai yang paling atas tidak perlu berbeda atau mencolok (pendapatnya, gaya hidup, dan lain-lain).
Emphasize barnraising. Maksudnya, organisasi sebagai suatu komuniti harus memberikan kesempatan yang sama pada anggota organisasi. Misalnya perlu adanya rotasi sehingga orang yang bekerja di “tempat basah” perlu ditempatkan juga di “tempat yang kering”. Semua anggota organisasi adalah tim kerja, semua harus memberikan kontribusi yang maksimal demi keberhasilan organisasi tersebut (tim).
Get together. Maksudnya adalah adakan acara-acara yang melibatkan semua anggota organisasi sehingga kebersamaan bisa terjalin. Misalnya sekali-sekali produksi digantikan dan semua karyawan terlibat dalam even rekreasi bersama keluarga, pertandingan olahraga, atau seni.
Support employee development. Hasil studi menunjukan bahwa karyawan akan lebih memiliki komitmen terhadap organisasi bila organisasi memperhatikan perkembangan karir karyawan jangka panjang.
Commit to Actualizing. Setiap karyawan diberikan kesempatan yang sama untuk memengaktualisasikan dirinya secara maksimal diorganisasi sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya masing-masing.
Provide frist-year job challenge. Karyawan yang masuk ke organisasi dengan membawa mimpi-mimpinya, harapannya, kebutuhan-kebutuhannya.berikan bantuan yang konkrit bagi dia untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. 
Enrich and empower. Ciptakan kondisi agar karyawan pekerja tidak monoton, karena rutinitas akan menimbulkan perasaan bosan bagi karyawan. Hal ini tidak baik karena akan menurunkan kinerja karyawan tersebut.
Promote from within. Bila ada lowongan jabatan, sebaiknya kesempatan pertama diberikan kepada pihak interen perusahaan sebelum merekrut karyawan dari luar perusahaan.
15. Provide development activities.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Komitmen
Komitmen pegawai pada organisasi tidak begitu saja tetapi melalui proses yang cukup panjang dan bertahap. Komitmen pegawai, termasuk komitmen kepala sekolah juga ditentukan oleh sejumlah faktor.
Ciri pribadi pegawai, termasuk masa jabatannya dalam organisasi, dan fariasi kebutukan dan keinginan yang berbeda dari tiap pegawai. 
Ciri pekerjaan, seperti identitas tugas dan kesempatan berinteraksi dengan rekan sekerjanya.
Pengalaman kerja, seperti keterandalan organisasi dimasa lampau dan cara pegawai-pegawai lain mengutarakan dan membicarakan perasaanya mengenai organisasi.
David mengemukakan ada empat faktor yang mempengaruhi komitmen karyawan pada organisasi yaitu:
Faktor person, misalnya usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengalaman kerja, dan kepribadian.
Karasteristik pekerjaan, misalnya lingkup jabatan, tantangan pekerjaan,konflik pekerjaan dalam pekerjaan.
Karakteristik struktur, misalnya besarkecilnya organisasi, bentuk sentralisasi atau desentralisasi, kehadiran serikat pekerja, dan tingkat pengendalian yang dilakukan organisasi terhadap karyawan.
Pengalaman kerja, pengalaman kerja karyawan saat berpengaruh terhadap tingkat komitmen karyawan pada organisasi. Karyawan yang baru beberapa tahun bekerja dan yang sudah puluhan tahun bekerja dalam organisasi tertentu memiliki tingkat komitmen yang berfariasi.




























BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Komitmen organisasi adalah sikap loyalitas karyawan terhadap organisasi, dengan cara tetap bertahan dalam organisasi, membantu mencapai tujuan organisasi dan dan tidak memiliki keinginan untuk meninggalkan organisasi dengan alasan apapun. 
Dimensi komitmen organisasi berkembang selama kepegawaian berlangsung dalam suatu organisasi. Secara umum, komitmen menjadi target dalam suatu kesatuan (perkumpulan, organisasi, karier atau pekerjaan) atau mengikuti perilaku misalnya kesesuaian dengan tujuan organisasi.
Bashaw dan Grant menjelaskan bahwa komitmen karyawan atau pimpinan terhadap organisasi merupakan sebuah proses berkesinambungan dan merupakan sebuah proses sebuah pengalaman individu ketika bergabung dalam sebuah organisasi.
Komitmen pegawai pada organisasi tidak begitu saja tetapi melalui proses yang cukup panjang dan bertahap. Komitmen pegawai, termasuk komitmen kepala sekolah juga ditentukan oleh sejumlah faktor.
Ciri pribadi pegawai, termasuk masa jabatannya dalam organisasi, dan fariasi kebutukan dan keinginan yang berbeda dari tiap pegawai. 
Ciri pekerjaan, seperti identitas tugas dan kesempatan berinteraksi dengan rekan sekerjanya.
Pengalaman kerja, seperti keterandalan organisasi dimasa lampau dan cara pegawai-pegawai lain mengutarakan dan membicarakan perasaanya mengenai organisasi.
Saran
Permasalahan komitmen pegawai menjadi isu kritis bersamaan dengan mulai derasnya informasi global, sebagai bagian dan konsekuensi logis globalisasi itu sendiri, bisnis dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan bisnis eksternal dan internal yang selalu berubah. Manajemen baru yang dapat saja terbentuk setiap saat. Pegawai-pegawai baru, pekerjaan-pekerjaan baru, peluang-peluang baru serta ancaman-ancaman baru, yang kesemuanya terus bermunculan di depan mata. Oleh karena itu kami menyarankan agar seluruh sumber daya manusia di dalam perusahaan memiliki komitmen yang tinggi pada pekerjaannya, maka seluruh pihak di dalam organisasi harus selalu termotivasi dan untuk mampu memotivasi ini, diperlukan komitmen dari pimpinan puncak perusahaan.

























DAFTAR PUSTAKA
Widi Purnama Sari, Pengaruh Disiplin Kerja, Komitmen Organisasi, Dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Negeri Sipil Balai Besar Wilayah Sungai Pemali-Juana. Semarang.
Ria Mardiana Yusuf dan Drman Syarif, Komitmen Organisasi. Makassar. Darmadi, Manajemen Sumber Daya Manusia Kepalasekolahan. Yogyakarta: CV Budi utama.
Aliflulahtin Utaminingsih, Perilaku Organisasi Malang: UB Press.


MAKALAH HAJI DAN UMRAH



Tugas  ini disusun untuk menyelesaikan salah satu tugas mata kuliah FIqh
Oleh:
Rizmi Rahmawati: 17010103018


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
KENDARI
2018


BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Ibadah Haji adalah rukun Islam kelima setelah syahadat, salat, zakat dan puasa yang wajib dilaksanakan oleh setiap orang Islam yang memenuhi syarat istitaah, baik secara finansial, fisik, maupun mental dan merupakan ibadah yang hanya wajib di lakukan sekali seumur hidup. Ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi pada suatu waktu yang dikenal sebagai musim haji (bulan Dzulhijjah). Hal ini berbeda dengan ibadah umroh yang bisa dilaksanakan sewaktu-waktu.
Agama Islam bertugas mendidik dzahir manusia, mensucikan jiwa manusia, dan membebaskan diri manusia dari hawa nafsu. Dengan ibadah yang tulus ikhlas dan aqidah yang murni sesuai kehendak Allah, insya Allah akan menjadi orang yang beruntung. Ibadah dalam agama Islam banyak macamnya. Haji dan umroh adalah salah satunya. Haji merupakan rukun iman yang kelima setelah syahadat, sholat, zakat, dan puasa. Ibadah haji adalah ibadah yang baik karena tidak hanya menahan hawa nafsu dan menggunakan tenaga dalam mengerjakannya, namun juga semangat dan harta. Ibadah haji tidak saja hanya merupakan kewajiban agama yang merupakan tanggung jawab individu ataupun masyarakat muslim, melainkan merupakan tugas nasional dan menyangkut martabat serta nama baik bangsa oleh karena itu kegiatan penyelenggaraan ibadah haji menjadi tanggung jawab Pemerintah. Namun partisipasi masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem dan menejemen penyelenggaraan ibadah haji.
Dalam mengerjakan haji, diperlukan penempuhan jarak yang demikian jauh untuk mencapai Baitullah, dengan segala kesukaran dan kesulitan dalam perjalanan, berpisah dengan sanak keluarga hanya dengan satu tujuan untuk mencapai kepuasan batin dan kenikmatan rohani.
Untuk memperdalam pengetahuan kita, kami mencoba memberi penjelasan secara singkat mengenai pengertian haji dan umrah, dasar hukum perintah haji dan umrah, syarat, rukun dan wajib haji dan umrah serta hal-hal yang dapat membatalkan haji dan umrah.
RUMUSAN MASALAH
Bagaimana pengertian haji dan umrah?
Apa saja syarat, rukun, dan wajib haji dan umrah?
Apa saja yang dilakukan saat haji dan umrah?
TUJUAN 
Mengetahui pengertian haji dan umrah.
Mengetahui syarat, rukun, dan wajib haji dan umrah.
Mengetahui hal-hal yang dilakukan saat haji dan umrah.







BAB II
PEMBAHASAN
PENGERTIAN HAJI DAN UMRAH
Pengertian Haji
Haji secara etimologi berasal dari bahsa Arab al-hajj berarti tujuan, maksud, dan menyengaja untuk perbuatan yang besar dan agung. Selain itu, al-hajj berarti mengunjungi atau mendatangi. Makna ini sejalan dengan aktivitas ibadah haji, di mana umat Islam dari berbagai negara mengunjungi dan mendatangi Baitullah (Ka’bah) pada musim haji karena tempat ini dianggap mulia dan agung.
Haji secara terminologi adalah perjalanan mengunjungi Baitullah untuk melaksanakan serangkaian ibadah pada waktu dan tempat yang telah ditentukan. Ahli fiqih kontemporere Mesih mendefinisikan haji, yakni dengan sengaja pergi ke Mekkah untuk melaksanakan tawaf, sa’i, wukuf di Arafah, dan rangkaian manasik haji lainnya, dalam rangka memenuhi panggilan (kewajiban dari) Allah dan mengharapkan keridhaan Allah. Makna yang dilakukan di tempat tertentu seperti dalam pengertian itu adalah sekitar Ka’bah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Sedangkan waktunya yaitu mulai tanggal 9 sampai 13 Zulhijjah setiap tahun. 
Pada dasarnya, umat manusia sudah sejak lama mengenal dan melakukan kunjungan atau perjalanan spiritual dari satu tempat ke tempat lain dalam rangka ibadah. Tradisi perjalanan spiritual seperti ini dapat ditemui dalam sejarah kehidupan masyarakat termasuk di belahan Timur. Ibadah ini dimaksudkan agar manusia mampu mengenal jati diri, menyucikan dan membersihkan jiwa mereka. Meskipun ibadah haji dikenal dalam agama-agama sebelum Islam, namun terdapat perbedaan mendasar. Perbedaan itu tampak dalam menentukan tempat-tempat yang dikunjungi, keterlibatan pemuka-pemuka agama dalam upacara ritual, dan binatang-binatang kurban yang disembelih. Ibadah haji yang dilakukan umat Islam di tanah suci Mekkah, sangat erat kaitannya dengan Ka’bah, seperti yang tercantum dalam Q.S. Ali-Imran: 96.
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Artinya: “ Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (Ali-Imran[3]: 96).
Pengertian Umrah
Umrah berasal dari bahsa Arab yaitu i’tamara berarti berkunjung atau ziarah. Kata ini juga berarti meramaikan tanah suci Mekkah yang disitu terletak Masjidil Haram dan di dalamnya terdapat Ka’bah. Namun dmeikian, umrah dalam konteks ibadah tidak sekedar berarti meramaikan, melainkan lebih dari itu, yaitu orang yang melaksanakannya dituntut agar dapat mengambil manfaat dari umrahnya, karena sebagaimana haji, aktivitas umrah merupakan refleksi dari pengalaman hamba-hamba Allah, yaitu Ibrahim As dan putranya Ismail As.
Umrah dengan arti meramaikan sama maknanya dengan kata makmur ( diambil dari bahsa Arab: ma’mur) dalam bahasa Indonesia, kata makmur sendiri seakar dengan kata umrah. Kata ini bukan hanya berarti ramai, tetapi juga mengandung makna mensejahterakan atau membuat sejahtera. Dalam konteks ini, umrah bukan hanya sekedar meramaikan tempat-tempat suci yang dalam istilah A-Qur’an disebut dengan sya’arillah  (monumen-monumen Allah), yakni Ka’bah, makam Ibrahim, Shafa dan Marwah. Sedangkan menurut terminologi, umrah adalah sengaja berziarah ke Baitullah (Ka’bah) untuk melakukan ibadah kepada Allah dengan cara-cara tertentu.
SYARAT, RUKUN, DAN WAJIB HAJI DAN UMRAH
Rukun dalam yang haji disebut juga dengan fardhu haji. Rukun adalah sesuatu amalan yang harus dulakukan. Jika tidak dilakukan, maka gugurlah amalan tersebut. Jika rukun ditinggalkan, maka tidak bisa diganti dengan amalan lain, termasuk dengan membayar dam sekalipun. Akibat dari meningkatkan rukun, maka hajinya batal atau gugur dan harus diganti pada waktu lainnya. Sedangkan wajib haji adalah sesuatu yang harus dilakukan namun tidak menyebabkan batalnya ibadah haji jika ditinggalkan. Sebagai gantinya, pelaksanaan wajib haji dapat diwakilkan melalui orang lain atau menebusnya dengan membayar dam jika ditinggalkan. Adapun sunnah haji adalah suatu yang boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan. Akan tetapi, diharapkan setiap jema’ah haji tetap melaksanakan sunnah-sunnah haji demi kesempurnaan ibadah haji.
Amalan sunnah yang dapat dilakukan sebelum maupun sesudah memakai ihram
Sebelum berihram
Memotong kuku
Memotong rambut dan kumis
Mandi besar dan berwudhu
Memakai wewangian hanya pada badan
Menyisir rambut dan jenggot
Sesudah berihram
Mengerjakan shalat sunnah ihram
Memperbanyak bacaan talbiah
Larangan yang harus ditaati setelah dan selama masih berpakaian ihram
Mengerat kuku
Menggunting rambut dan kumis
Mencabut semua bulu yang ada di badan
Mencabut, mematahkan, atau menebang tanaman
Membunuh atau memburu binatang
Meminang atau dipinang
Menikahkan atau dinikahkan
Melakukan hubungan intim sumai istri
Syarat ibadah haji dan umrah
Islam
Mukalaf atau orang yang telah mengetahui hukum dan dapat dibebani kewajiban untuk menjalankan syariat Islam. Dalam kategori ini adalah orang yang sudah dewasa atau yang sudah cukup umur (baligh). 
Berakal atau orang yang sehat baik jiwa maupun pikirannya.
Merdeka atau bukan bukan hamba sahaya atau orang yang berbeda dalam kekuasaan atau pertanggungan orang lain.
Mampu (istitha’ah), artinya memiliki kemampuan secara materi baik biaya untuk perjalanan, selama tinggal di Tanah Suci, juga biaya untuk keluarga yang ditinggalkan.
Rukun 
Memakai kain ihram
Niat dalam keadaan
Tawaf
Wukuf di Padang ‘Arafah
Thawaf Ifadhah
Sa’i
Thawaf Wada’
Tertib sesuai pada sebagian besar rukunnya
HAL-HAL YANG DILAKUKAN SAAT HAJI DAN UMRAH
Haji 
Sebelum tanggal 7 Dzuhijjah, seluruh jama’ah haji yang berada di Tanah Suci Mekkah bersiap-siap untuk melaksanakan manasik haji. Berbagai peralatan disiapkan untuk bekal selama 5 hari berada di ARMINA ( Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Kesemua peralatan tersebut dimasukan ke dalam tas. Tanggal 7 Dzulhijjah pada siang hari, ada beberapa jama’ah haji yang berangkat ke Mina terlebih dahulu untuk melaksanakan mabit sebelum ke padang Arafah. Mereka ini umumnya yang mengerjakan haji dengan cara Ifrad dan Qiran dan sudah berihram sejak dari miqat awal sebelum memasuki kota Mekkah. Selama di Mina mereka melakukan shalat Zuhur, Ashar, Magrib, Isya, dan Subuh dengan cara diqasar tanpa dijamak. Setelah itu, pada tanggal 9 Dzulhijjah siang atau sore mereka menuju ke Padang Arafah.
Pada tanggal 8 Dzulhijjah (Hari Tarwiyah) pada siang atau sore hari, semua jama’ah sudah berihram untuk haji dari pemondokan masing di kota Mekkah dengan membaca niat.
لَبَّيْكَ اللهُمَّ حَجًّا
Artinya: “Aku berniat mengerjakan haji dan berihram dengannya karena Allah Ta’ala. Aku memenuhi penggilan-Mu ya Allah untuk melakukan haji.”
Para jama’ah haji yang mengerjakan haji dengan cara Ifrad dan Qiran tidak perlu melakukan ihram haji dengan niat tersebut karena mereka sudah berihram sejak dari miqat awal sebelum memasuki kota Mekkah. 
Pada tanggal 9 Dzulhijjah (Hari Arafah) setelah matahari tergelincir dan masuk waktu Zuhur, maka pelaksanaan wukuf dimulai. Wukuf di Padang Arafah adalah inti ibadah haji. Wukuf berlangsung sampai dengan terbenamnya matahari. Karena itu semua jama’ah diharapkan tidak menyia-nyiakan waktu tersebut. Wukuf termasuk rukun haji, sehingga tidak satupun yang boleh meninggalkannya. Jika meninggalkan wukuf maka hajinya tidak sah. Oleh karena itu, jama’ah haji yang sakitpun di-safari wukuf-kan ke Padang Arafah.
Pada tanggal 10 Dzulhijjah (Hari Nahar) bertepatan dengan hari Nahar (Hari Raya Kurban), dari tenda masing-masing di Mina, semua jama’ah menuju lokasi melempar Jumratul Aqabah. Melempar Jumratul Aqabah dilakukan dengan 7 krikil, dan pada setiap lemparan disertai dengan memebaca takbir dan do’a.
اَللّهُمَّ تَصْدِيْقًا بِكِتَا بِكَ وَاتِّبَا عًا لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ. اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِرًا, وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لاَإِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. اَللّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّـا مُبْرُوْرًا وَسَعْيًا مُشْكُوْرًا
Artinya: “Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, (dengan ini) terkutuklah segala setan dan (diraih) ridha Allah Yang Maha Pengasih. Ya Allah, jadikanlah hajiku ini haji yang mambrur dan sa’iku, sa’i yang diterima.”
Tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah (Hari Tasyrik) jama’ah melempar jumrah ditiga lokasi jamarat, dimulai dari Jumratul Ula, Jumratul Wustha, lalu di Jumratul Aqabah. Waktu melempar yang paling afdal adalah setelah tergelincir matahari, ditanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah sampai dengan terbitnya fajar dimasing-masing hari berikutnya. Mabit di Mina dilakukan pada tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Para jama’ah haji yang melempar jumrah di tiga jamarat pada tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah lalu meninggalkan Mina disebut nafar awal. Sedangkan bagi jama’ah yang baru meninggalkan Mina setelah melakukan lempar jumrah pada tanggal 13 Dzulhijjah disebut mengikuti nafar tsani. Setelah melakukan lempar jumrah, para jama’ah yang melakukan nafar awal maupun nafar tsani kembali ke Masjidil Haram. Sesampainya di Masjidil Haram, jama’ah melakukan tawaf ifadhah dan diteruskan dengan mengerjakan sa’i haji. 
Sebelum meninggalkan Tanah Suci Mekkah, jama’ah haji harus melakukan tawaf wada atau tawaf perpisahan. Pelaksanaan tawaf wada sama dengan tawaf sunnah lainnya, yaitu tanpa berpakaian ihram. Namun, tawaf wada mempunyai syarat yang sama dengan tawaf lainnya. Jika tawaf wada sudah dilakukan, maka jama’ah sudah sah meninggalkan Tanah Suci. 
Umrah
Pada umumnya, jama’ah umrah terlebih dahulu masuk ke kota Madinah untuk melakukan serangkaian kegiatan ibadah, diantaranaya berkunjung ke rumah dan makam Rasulullah serta mengerjakan shalat dan zikir atau berdo’a di Raudhah yang berada di dalam Masjid Nabawi. Kegiatan lain selama di Madinah adalah berziarah ke pemakaman Baqi, juga berkunjung ke Masjid Quba adan mengerjakan shalat sunnah disana. Setelah kegiatan ibadah di Madinah dianggap cukup, maka para jama’ah menuju ke kota Mekkah melalui Dzulhulaifah atau yang dikenal dengan nama Bir Ali. 
Dari Bir Ali, dimulailah proses ibadah umrah. Setiap jama’ah laki-laki memakai kain ihram tanpa berjahit sebanyak dua helai. Sementara jama’ah perempuan memakai baju bebas yang berjahit, asalkan menutup aurat, kecuali wajah (tidak boleh bercadar) dan telapak tangan. Setelah berihram maka semua jama’ah  membaca niat ihram untuk umrah.
نَوَيْتُ الْعُمْرَةَ وَاَحْرَمْتُ بِهَا ِللهِ تَعَالَى
Artinya: “Aku berniat mengerjakan umrah dan berihram dengannya karena Allah Ta’ala. Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah untuk melakukan umrah.”
Haji dan umrah pada praktiknya memiliki kesamaan, sama seperti haji secara bahasa, umrah merupakan kunjungan dan ibadah ke Tanah Suci Mekkah untuk melakukan ibadah umrah. Pelaksanaan umrah juga diawali dengan berpakaian ihram dan berniat dari miqat makani diteruskan melakukan tawaf umrah dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali, lalu mengerjakan sa’i umrah, dan diakhiri dengan tahallul semata-mata mengharap ridha Allah. Perbedaan haji dan umrah terletak pada jumlah rukun dan wajibnya saja. Pelaksanaan ibadah umrah tidak mengenal wukuf di Padang ‘Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina, juga melempar jumrah ‘Aqabah dan melempar jumrah ditiga lokasi jamarat pada tiga hari tasyrik yang hanya ada pada musim haji. Perbedaan mendasar antara haji dan umrah adalah dari segi waktu pelaksanaannya. Ibadah haji hanya dapat dilakukan pada musim-musim haji, yaitu dari tanggal 1 Syawal sampai dengan tanggal 13 Dzulhijjah. Terutama sekali ibadah haji mengenal wukuf yang hanya bisa dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Sementara umrah selain bisa dikerjakan pada musim haji yang waktunya adalah sebelum melakukan wukuf atau sesudah melakukan tahallul tsani, juga boleh dilakukan di luar musim haji. 


















JURNAL BERBAHASA ASING
        Hajj is the fifth pillar of Islam after the shahada, prayer, zakat and fasting that must be implemented by every Muslim who qualifies istitaah, both financially, physically, and mentally and is a mandatory worship that is only done once in a lifetime. Hajj is an annual ritual performed by Muslims worldwide by visiting and carrying out some activities in several places in Saudi Arabia at a time known as Hajj (month of Dhul-Hijjah). This is different from the umroh worship that can be implemented at any time.






















KITAB TURATS
وهو لغة القصد وشرعاً قصد البيت الحرام للنسك (وشرائط وجوب الحج سبعة أشياء) وفي بعض النسخ سبع خصال (الإسلام والبلوغ والعقل والحرية) فلا يجب الحج على المتصف بضد ذلك (ووجود الزاد) وأوعيته إن احتاج إليها وقد لا يحتاج إليها كشخص قريب من مكة، ويشترط أيضاً وجود الماء في المواضع المعتاد حمل الماء منها بثمن المثل (و) وجود (الراحلة) التي تصح له بشراء أو استئجار هذا إذا كان الشخص بينه وبين مكة مرحلتان فأكثر سواء قدر على المشي أم لا، فإن كان بينه وبين مكة دون مرحلتين، وهو قوي على المشي لزمه الحج بلا راحلة، ويشترط كون ما ذكر فاضلاً عن دينه وعن مؤنة من عليه مؤنتهم مدة ذهابه وإيابه، وفاضلاً أيضاً عن مسكنه اللائق به، وعن عبد يليق به (وتخلية الطريق) والمراد بالتخلية هنا أمن الطريق ظناً بحسب ما يليق بكل مكان، فلو لم يأمن الشخص على نفسه أو ماله أو بضعه، لم يجب عليه الحج وقوله (وإمكان المسير) ثابت في بعض النسخ، والمراد بهذا الإمكان أن يبقى من الزمان بعد وجود الزاد والراحلة ما يمكن فيه السير المعهود إلى الحج، فإن أمكن إلا أنه يحتاج لقطع مرحلتين في بعض الأيام لم يلزمه الحج للضرر.
وأركان الحج أربعة) أحدها (الإحرام مع النية) أي نية الدخول في الحج (و) الثاني (الوقوف بعرفة) والمراد حضور المحرم بالحج لحظة بعد زوال الشمس يوم عرفة، وهو اليوم التاسع من ذي الحجة بشرط كون الواقف أهلاً للعبادة لا مغمى عليه، ويستمر وقت الوقوف إلى فجر يوم النحر، وهو العاشر من ذي الحجة (و) الثالث (الطواف بالبيت) سبع طوفات جاعلاً في طوافه البيت عن يساره مبتدئاً بالحجر الأسود محاذياً له في مروره بجميع بدنه، فلو بدأ بغير الحجر لم يحسب له (و) الرابع (السعي بين الصفا والمروة) سبع مرات وشرطه أن يبدأ في أول مرة بالصفا، ويختم بالمروة ويحسب ذهابه من الصفا إلى المروة مرة وعوده إليه مرة أخرى، والصفا بالقصر طرف جبل أبي قبيس، والمروة بفتح الميم وبقي من أركان الحج الحلق أو التقصير إن جعلنا كلاًّ منهما نسكاً، وهو المشهور، فإن قلنا إن كلاًّ منهما استباحة محظور فليسا من الأركان، ويجب تقديم الإحرام على كل الأركان السابقة
(وأركان العمرة ثلاثة) كما في بعض النسخ، وفي بعضها أربعة أشياء (الإحرام والطواف والسعي والحلق أو التقصير في أحد القولين) وهو الراجح كما سبق قريباً وإلا فلا يكون من أركان العمرة 











PERTANYAAN
1. Apakah boleh orang yang telah meninggal di daftarkan untuk berhaji? 
2. Mengapa seorang laki-laki yang sedang berhaji tidak boleh memakai pakaian yang dijahit? 
3. Mengapa seorang perempuan yang berhaji tidak dibolehkan memakai cadar ketika sedang melakukan ibadah? 






















BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Tugas manusia di muka bumi ini adalah untuk beribadah kepada Allah SWT sesuai dengan syari’at yang di bawa oleh Nabi Muhammad SAW, beribadah banyak macamnya. Adapun yang menjadi tolak ukur seorang hamba di dalam ibadahnya yaitu dengan melaksanakan shalat, dan sebagai penyempurna rukun Islam kita yaitu ibadah haji. Ada beberapa kesimpulan yang dapat penulis simpulkan dari pembahasan ini, yakni :
Shalat dan ibadah haji termasuk rukun Islam dan perintah Allah, yang wajib kita laksanakan apabila kita mampu “Ibadah Haji”.
Apabila kita mati shalat merupakan hisaban pertama yang dilakukan dan sebagai tolak ukur ibadah-ibadah yang lainnya.
Orang yang suka melaksanakan shalat berarti dia menegakan agama, dan orang yang tidak suka melaksanakan shalat berarti dia menghancurkan agama.
Untuk menambah pahala ibadah shalat, kita mesti melaksanakan shalat nawafil yakni shalat sunat, baik rawatib atau mutlak atau shalat sunat lainnya, seperti dluha, tahajud, hajat dan lain sebagainya.
Dengan meksanakan ibadah haji kita bisa bertemu dengan umat islam yang lain dari seluruh dunia.
Dengan melaksanakan ibadah haji kita akan dibalas dengan balasan surga firdaus dan itu untuk haji yang mabrur
SARAN
Dalam menyusun makalah ini mungkin belumlah sempurna maka dari itu saya berharap untuk untuk hendaknya memberikan saya penjelasan lebih atau pemberian contoh yang jelas agar saya dapat memperbaiki makalah yang saya susun dikemudisn hari.


















DAFTAR PUSTAKA
Nafi Moh, 2015. Haji dan Umrah Sebuah Cerminan Hidup. Surabaya: Erlangga.
Agil Said Husain Al Munawar, Halim Abdul, 2003. Fikih Haji Menuntun Jama’ah Mencapai Haji Mambrur. Jakarta: Ciputat Press.

Tugas Ujian Akhir Perilaku Organisasi

                PERILAKU ORGANISASI Dosen Pengampu: Syahrul S.Pd.I, M.Pd, Ulasan ini disusun untuk menyelesaikan salah sat...